Faidah Kedua Hadits Wakaf: Berwakaf dengan Harta Terbaik yang Paling Dicintai (Anfasul Amwal)
Kajian Hadits Wakaf dari Kitab 'Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam karya Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi.
Mempersembahkan Aset Paling Bernilai untuk Akhirat
Pada Faidah Kedua, perhatian kita tertuju pada pengakuan jujur Umar radhiyallahu 'anhu di hadapan Rasulullah ﷺ: “Lam ushib malan qaththu huwa anfasu 'indi minhu” (“Aku belum pernah mendapatkan harta sama sekali yang lebih berharga dan lebih kucintai melebihi tanah ini”). Menariknya, justru karena aset itulah yang paling unggul nilainya di mata Umar, aset itulah yang pertama kali terpikirkan olehnya untuk dipersembahkan kepada Allah ﷻ.
Firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an Surah Ali 'Imran Ayat 92:
"Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan yang sempurna (al-birr), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."
Ketika ayat ini turun, para sahabat berlomba meneliti daftar harta mereka untuk mencari mana yang paling mereka cintai—seperti Abu Thalhah Al-Anshari yang segera mewakafkan kebun kurma Bairuha' di dekat Masjid Nabawi.
Mentalitas Sahabat vs Kekeliruan Umum dalam Bersedekah
Kualitas objek yang diwakafkan mencerminkan seberapa agung kedudukan Allah dan negeri akhirat di dalam hati seorang hamba:
Standar Para Sahabat (Anfasul Amwal)
Memilih lahan paling subur, lokasi paling strategis, atau aset paling sehat arus kasnya untuk diwakafkan, karena mereka yakin apa yang dikirim ke akhirat itulah yang sejatinya kekal menjadi milik mereka.
Kekeliruan Mewakafkan Harta Sisa (Ar-Radzi')
Sebagian orang justru baru mewakafkan lahan sengketa, tanah gersang yang tidak laku dijual, atau barang rusak tak terpakai—padahal Allah berfirman: 'Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya' (QS. Al-Baqarah: 267).
3 Dampak Nyata Mewakafkan Aset Terbaik
- Meraih Derajat Al-Birr (Kebajikan Paripurna): Besar kecilnya pahala di sisi Allah tidak semata diukur dari nominal angka, melainkan juga dari kadar kecintaan dan pengorbanan hati saat melepas harta berharga tersebut.
- Daya Guna Manfaat yang Cepat dan Melimpah: Aset yang bermutu tinggi—seperti kebun subur atau properti produktif strategis—langsung mampu menghasilkan manfaat besar bagi fakir miskin tanpa membebani nazhir dengan biaya perbaikan berat.
- Kemerdekaan Jiwa dari Perbudakan Dunia: Saat seorang hamba sanggup melepaskan harta yang paling memikat hatinya demi ridha Allah, runtuhlah belenggu cinta dunia dari dadanya.


