Ada kisah di balik gempa NTT yang sulit dibaca tanpa menahan air mata.
Dipublikasikan pada 21 Agustus 2026 β’ Kode Arsip Dokumentasi: DcSarWZkXur β’ β₯ 709 Likes
Laporan & Catatan Dokumentasi Lapangan
Ada kisah di balik gempa NTT yang sulit dibaca tanpa menahan air mata. π
Namanya Risma, bocah 11 tahun dari Desa Baras, Nusa Tenggara Timur. Gempa yang mengguncang kampungnya merenggut hidupnya setelah ia tertimpa bangunan yang roboh.
Di sebuah tenda plastik sederhana, sang ayah memeluk tubuh putri kecilnya untuk terakhir kali. Sebuah pelukan perpisahan untuk anak yang begitu dicintainya.
Namun, ada satu hal yang membuat kisah Risma semakin menyayat hati.
Sebelum bencana terjadi, Risma pernah menulis sebuah surat kepada Allah.
βYa Allah kampung semoga kami tidak terjadi kayak di Aceh. Semoga tidak terjadi ya Allah. Kami ini banyak yang susah dan banyak yang miskin. Semoga yang saya doa dan tulis ini dibaca Allah...β
Di usia ketika anak-anak seharusnya sibuk bermain dan bermimpi, Risma justru memikirkan kampung dan orang-orang di sekitarnya.
Ia tidak meminta mainan. Ia tidak meminta sesuatu untuk dirinya.
Ia hanya berharap kampungnya dijauhkan dari bencana dan masyarakatnya tidak lagi hidup dalam kesusahan.
Kini, anak kecil yang menitipkan doa itu telah pergi lebih dulu.
Risma mungkin tak pernah tahu bahwa tulisan sederhananya akan dibaca begitu banyak orang. Yang tersisa kini adalah pelukan seorang ayah dan doa seorang anak.
Risma telah pergi, tetapi doanya masih tinggal.
Semoga Allah menerima Risma di tempat terbaik-Nya, menguatkan keluarganya, dan mengabulkan doa kecil yang pernah ia tuliskan. π€²π»
Sebab terkadang, dari hati seorang anak yang begitu kecil, lahir doa yang begitu besar.
Mari Kirimkan kepedulian dan sedekah darurat Anda melalui:
π Arsip Utuh Takarir (Caption) Asli Instagram @amalproduktif (DcSarWZkXur) Buka / Tutup
Namanya Risma, bocah 11 tahun dari Desa Baras, Nusa Tenggara Timur. Gempa yang mengguncang kampungnya merenggut hidupnya setelah ia tertimpa bangunan yang roboh.
Di sebuah tenda plastik sederhana, sang ayah memeluk tubuh putri kecilnya untuk terakhir kali. Sebuah pelukan perpisahan untuk anak yang begitu dicintainya.
Namun, ada satu hal yang membuat kisah Risma semakin menyayat hati.
Sebelum bencana terjadi, Risma pernah menulis sebuah surat kepada Allah.
βYa Allah kampung semoga kami tidak terjadi kayak di Aceh. Semoga tidak terjadi ya Allah. Kami ini banyak yang susah dan banyak yang miskin. Semoga yang saya doa dan tulis ini dibaca Allahβ¦β
Di usia ketika anak-anak seharusnya sibuk bermain dan bermimpi, Risma justru memikirkan kampung dan orang-orang di sekitarnya.
Ia tidak meminta mainan.
Ia tidak meminta sesuatu untuk dirinya.
Ia hanya berharap kampungnya dijauhkan dari bencana dan masyarakatnya tidak lagi hidup dalam kesusahan.
Kini, anak kecil yang menitipkan doa itu telah pergi lebih dulu.
Risma mungkin tak pernah tahu bahwa tulisan sederhananya akan dibaca begitu banyak orang. Yang tersisa kini adalah pelukan seorang ayah dan doa seorang anak.
Risma telah pergi, tetapi doanya masih tinggal.
Semoga Allah menerima Risma di tempat terbaik-Nya, menguatkan keluarganya, dan mengabulkan doa kecil yang pernah ia tuliskan. π€²π»
Sebab terkadang, dari hati seorang anak yang begitu kecil, lahir doa yang begitu besar.
Mari Kirimkan kepedulian dan sedekah darurat Anda melalui:
β BSI : 7555552698
β Muamalat 1010137934
π A.n. Yayasan Amal Produktif Indonesia (termasuk operasional Nazhir)
π Konfirmasi Donasi:
β’β β 0822-9597-5445 (Admin Rangga)
#prayforntt #gempantt #korbangempa #risma
Telusuri Dampak & Laporan Audit Keuangan Kami
Setiap program Yayasan Amal Produktif Indonesia didukung bukti dokumentasi lapangan, pencatatan Buku Besar ERP, dan Audit KAP Opini WTP 4 tahun berturut-turut.


