Hak Wakaf Cucu Perempuan & Hukum Mengkhususkan Anak Laki-laki
Syarhul Mumti' 'ala Zad Al Mustaqni Episode 23 bersama Amal Produktif
Hak Wakaf Bagi Cucu dari Anak Perempuan
Berdasarkan pembahasan, pada kaidah dasarnya cucu dari anak perempuan tidak termasuk dalam kategori penerima wakaf jika si pewakaf hanya menggunakan kata "walad" (anak-anakku). Namun, mereka tetap berhak mendapatkan bagian wakaf apabila memenuhi salah satu dari kondisi qarinah (indikasi penguat) berikut:
-
Pewakaf Hanya Memiliki Anak Perempuan
Jika pewakaf berkata "untuk anak-anakku dan keturunannya", dan kenyataannya ia tidak memiliki anak laki-laki (hanya perempuan), maka cucu dari anak perempuan tersebut sah menerimanya.
-
Pernyataan Prioritas
Pewakaf mengatakan "diutamakan cucu dari anak laki-laki". Kalimat diutamakan ini bermakna bahwa cucu dari anak perempuan juga mendapatkan jatah, namun porsinya tidak diprioritaskan di awal.
-
Pernyataan Syarat yang Tegas
Pewakaf secara eksplisit merinci syaratnya: "Aku wakafkan untuk cucuku dari anak laki-laki dan cucuku dari anak perempuan." Ini adalah syarat mutlak yang tidak mengandung penafsiran lain.
"Kaidah kesimpulannya adalah: Cucu dari anak perempuan tidak termasuk kategori 'walad', kecuali ada pernyataan yang jelas atau hal lain (qarinah) yang menunjukkan makna tersebut."
Hukum Mengkhususkan Wakaf Hanya untuk Anak Laki-laki
Pertanyaan kritis yang sering muncul: Bolehkah seseorang mewakafkan hartanya secara eksklusif hanya untuk anak laki-lakinya dan mengabaikan anak perempuannya? Berikut tinjauannya dari sisi bahasa dan syariat:
Tinjauan Bahasa (Lafaz)
Dalam kaidah bahasa Arab, orang Arab membedakan kata Banun (anak laki-laki) dan Banat (anak perempuan). Sehingga, jika pewakaf mengucapkan "untuk anak laki-lakiku", maka secara bahasa, anak perempuan memang tidak tercakup dalam lafaz tersebut.
Tinjauan Hukum Syariat
Secara hukum agama, perbuatan ini TIDAK BOLEH dilakukan. Seseorang tidak dibenarkan mengkhususkan hartanya untuk anak laki-laki saja karena hal tersebut melanggar prinsip keadilan bagi sesama keturunannya.
Peringatan dari Rasulullah ﷺ
"Bertakwalah kepada Allah, dan berlakulah adil kepada anak-anak kalian."
Nabi ﷺ melabeli pengkhususan pembagian waris/wakaf yang berat sebelah ini sebagai sebuah "Jaur" (Kezaliman). Beliau bersabda, "Aku tidak ingin bersaksi atas sebuah kezaliman." Dengan demikian, orang yang meniadakan hak anak perempuannya digolongkan sebagai orang yang berbuat zalim.